Dia Motivasiku

Mengenai Dia

IBU SANG MOTIVASIKU

(oleh: Sonya Prawanda | NIM. 12001001 – 1A PAI)

Mengagumi orang tua adalah keharusan bagi diriku, terutama kepada ibu. Bagiku, ibu adalah seorang wanita yang selalu melukis senyum dibibirnya walaupun dalam keadaan berduka. Beliau merupakan sosok yang sangat berjasa buatku dengan ketegaran dan ketabahannya. Ibuku bernama Nurhayati. Beliau lahir di Suhaid, Kapuas Hulu pada 5 Desember 1985. Kini usianya sudah memasuki 35 tahun. Mungkin, jika dibandingkan dengan umur orang tua temanku yang lain. Maka usia ibuku bisa terbilang lebih muda dari usia orang tua temanku. Ibuku adalah wanita yang cantik menurutku, dengan sikap kelucuannya yang kadang membuatku tertawa, serta ketegasannya agar aku tak menjadi anak yang malas.

Ibuku dibesarkan tanpa didampingi oleh sosok ibu kandung. Mengapa demikian? Karena saat ibuku masih bayi, berkisar baru berusia 40 hari, beliau sudah ditinggal oleh ibu kandungnya sendiri. Mereka terpisahkan bukan lagi antara kota melainkan antara negara. Ibu dari ibuku merupakan warga negara Brunei Darussalam, sedangkan ayah ibuku merupakan warga negara Indonesia. Beliau tidak pernah sama sekali bertatap langsung dengan ibunya. Tentunya, hal ini menjadi sulit dan tantangan hidup bagi ibuku. Untuk itu, ibu hanya tinggal bersama keluarga ayahnya. Ibuku tumbuh menjadi anak perempuan yang harus terbiasa hidup mandiri. Beliau dengan ikhlas merawat nenek dan kakeknya. Ibuku menjadi terbiasa untuk bisa masak sendiri, mengangkut air dari sungai dengan melewati tangga-tangga dan banyak hal yang menurutku akan sulit bila aku yang berada di posisi saat itu.

Selama 34 tahun, ibuku terpisah dengan ibunya tanpa kabar. Akhirnya, beberapa bulan yang lalu takdir serta rencana Tuhan sangat mengejutkan. Kenapa demikian? Saat itu, ibuku mendapat informasi dari keluarganya mengenai saudara kandungnya yang mencari keberadaan ibuku. Tak lama, masuk panggilan dari nomor negara asing. Nomor hp itu adalah nomor adik bungsunya yang menelpon ibuku. Saat itu, keadaan tumpah dengan air mata. Bagaimana tidak? Hal yang tidak pernah disangka bahkan dirasa seperti mimpi, namun ini adalah kenyataan. Saat itu, ibuku menangis sejadi-jadinya sambil menatap layar handphone yang tampak wajah sang ibu dan adik bungsunya. Ini pertama kalinya bagi ibuku menatap dan berbicara dengan ibunya. Walaupun, sampai saat ini mereka tak pernah berjumpa secara langsung dan hanya dapat berjumpa melalui sosial media. Hal ini, terkendala karena adanya pandemi saat ini. Namun, setiap malamnya ibuku dengan ibunya serta saudara-saudaraya selalu berkomunikasi. Bagaimana tidak? Tentunya, itu adalah saat-saat dimana ibuku dapat mengobati rindunya yang telah lama dirasakannya. Kebahagiaan seorang anak yang akhirnya dapat berjumpa dengan ibu kandungnya setelah berpuluh-puluh tahun dilalui. Sungguh, rencana Allah sangatlah luar biasa dan tak disangka-sangka.

Ibu adalah sosok yang sangat tegar dan hebat dimataku. Mungkin, hampir semua anak akan menganggap hal yang serupa. Beliau merupakan sosok yang suka menghiburku dengan leluconnya. Mengingat kenangan dengan ibu, aku teringat akan perjuangan ibuku dulu. Saat dimana, ekonomi kami sangat terbatas dan saat itu ibu belum bisa mengendarai motor. Tak jarang, aku bersama ibuku berjalan kaki menuju pasar. Terkadang, karena sifat manjaku saat itu membuat ibu terus menggendongku selama perjalanan. Tidak hanya manja, aku terkadang selalu mencoba kabur jika disuruh untuk tidur siang. Namun, tentunya untuk kabur tidak semudah yang direncanakan.

Dulu, aku dan ibu selalu ikut kemanapun bapak bekerja. Karena saat itu, bapak bekerja menjadi kuli atau membawa mobil milik orang. Tak jarang, kami berpindah-pindah tempat tinggal. Bahkan, kami pernah tinggal di daerah perbatasan. Dan saat itu, aku ikut bersama ibu menjual kalung khas Dayak dari manik-manik ke Malaysia. Namun, ibuku selalu setia menemani bapak dimanapun hingga akhirnya kami punya rumah tetap dan ayah sudah memiliki mobil sendiri.

Setiap harinya, tak jarang ibu sering dibuat mengomel karena tingkahku. Hal itu, karena ibuku ingin aku menjadi anak yang tidak malas-malasan. Ibu juga sering mengajari aku memasak serta banyak kegiatan dalam rumah tangga. Tentunya, hal ini penting dipelajari oleh seorang perempuan. Karena kondisi, aku lebih dekat dengan ibu ketimbang bapak. Hal ini, dikarenakan bapak pulang bekerja bisa sampai larut malam bahkan pernah tidak pulang. Sehingga, waktu bersama bapak lebih sedikit dibandingkan dengan ibu.

Aku sangat suka mendengar cerita dari ibu. Ibu pernah bercerita mengenai masa lalunya kepadaku. Banyak perjuangan yang dilaluinya sejak kecil. Ibuku harus bekerja guna mendapatkan uang, seperti dengan bekerja memotong rumput, menjual minyak, berjualan dan banyak lainnya. Bahkan, ibu juga pernah bercerita mengenai perjuangannya berangkat sekolah yang harus menyebrangi sungai menggunakan perahu. Pernah beberapa kali, perahu yang ibuku bawa saat ingin berangkat sekolah malah terbalik di tengah sungai. Sehingga, ibuku tidak jadi berangkat sekolah karena melihat pakaian serta buku-bukunya basah. Karena keterbatasan biaya, ibuku hanya dapat menyelesaikan pendidikannya sampai pada bangku SD saja. Setelah itu, ibu harus ikut ayahnya bekerja. Sungguh, mendengar cerita itu membuat diriku harus bersyukur dengan kondisiku saat ini.

Bagiku, ibu adalah sosok yang sangat penyabar. Beliau selalu berusaha terlihat tegar dan kuat dihadapan anaknya. Mencoba selalu melukiskan senyum dibibirnya untuk menutupi kegundahan hatinya. Bahkan, menurutku ibu juga terkadang berbohong dengan perasaannya. Beliau mengatakan tidak lapar dan sudah makan, padahal itu bukan yang sebenarnya. Dulu, ibulah yang selalu menemani serta membantu saat aku mengerjakan tugas hingga larut malam. Padahal, sebenarnya ibu sangat lelah. Namun, ibu tetap mau menemaniku karena tidak ingin melihat anaknya terlalu kelelahan. Terkadang, aku sangat menyesali segala perkataan dan perbuatanku yang terkadang membuatnya kesal hingga sedih. Seketika, aku membenci diriku sendiri karena tidak dapat menjaga sikap dihadapannya dan menganggap diriku sangat jahat padanya. Bagiku, ibu adalah bagian terpenting dari hidupku.

Ibu juga kadang berpesan kepadaku, agar aku menjadi manusia yang bermanfaat dan ibu berharap agar anaknya tidak merasakan pahit kehidupan yang pernah ia rasakan. Ibu sudah aku anggap sebagai teman serta sahabatku. Saat bersamanya, aku merasa selalu ingin bercerita. Aku merasa hampa tanpa adanya beliau. Karena sifat pemaluku, aku sangat membutuhkan ibu saat aku ingin melakukan sesuatu.

Ibuku adalah sosok yang ramah terhadap orang lain. Beliau sangat mudah berbaur dengan orang lain, termasuk pada teman-temanku. Ibuku suka sekali mengajakku bercanda. Selain ramah, ibu selalu mengajariku untuk selalu berbagi. Bagiku, ibu adalah orang yang sangat baik.

Ini hanya secuil kisah mengenai ibuku. Sosok yang selalu mendukungku dan memotivasiku. Dengan banyaknya cinta serta kasih sayangmu kepadaku, ungkapan terima kasihku pun tak ada apa-apanya dengan jasamu. Aku beruntung sekali, Allah telah memberikanku seorang ibu yang sangat baik dan hebat. Harapan setiap anak untuk orang tuanya, tentunya meminta agar selalu diberikan kesehatan dan menjadi keluarga yang utuh hingga ke Syurga kelak. Ucapku untukmu, terima kasih banyak.

Mungkin tak tersusun rapi dan indah, namun mengingat cinta dan kasih sayang seorang ibu. Semoga, kita dapat merasakan keindahan serta cinta dari hati kita dalam mengingat IBU.

Dariku yang kini bukan anak kecil itu lagi.

Untukmu yang mau menyempatkan diri untuk membaca ini, aku ucapkan terima kasih banyak. Semoga selalu sehat dan sayangi orang tuamu...

Assalamu'alaikum warahmatullaahi ta'alaa wabarakaatuh

Komentar

  1. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

    BalasHapus

Posting Komentar